Oleh: Ita Djamari

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (terjemah QS. Al-An’am ayat 112).

Menurut hukum Newton III, jika suatu benda diberikan gaya sebagai aksi maka benda tersebut melawan gaya sebagai gaya reaksi. Kinanti baru merasakan secara langsung. Dorongan besar menghimpit dada begitu menangkap kelebat siswi kelas delapan yang berjalan melintasi ruang guru, tempatnya menunggu Bu Desi. Sebuah rasa tak nyaman membuatnya melakukan reaksi. Berlebihan, bisa jadi. Mata bermanik coklat itu terbelalak sekaligus mengerahkan daya menahan sesuatu yang bergejolak di luar kendali.

Terlambat! Gadis itu terjatuh di koridor. Ujung khimar yang menyampir di pundak Kinanti bergetar mengikuti gigil tubuh. Antara takut dan puas tak bisa dibedakan. Ia mengambil gelas di meja, bergegas menenggak.

“Kak Kinanti silakan ke aula,” Bu Desi menghampiri.

“Ah!” Kinanti terlonjak! Gelas yang dipegangnya jatuh. Pecahan kaca berserak di lantai.

“Oh! Maaf mengagetkan. Kak Kinan tidak apa-apa?” Bu Desi segera mengambil selembar tisu di meja. Membasuh sisa air yang menmepel di tangan Kinanti.

“Tidak apa-apa, maaf merepotkan,” sahut Kinanti. Sambil merapikan ujung kerudung, ekor matanya tak lepas mengamati koridor sekolah.

Kerumunan siswa riuah membopong seorang siswi ke UKS di seberang ruang guru.

***

Lampu teras sudah nyala. Daun zodia di bawah jendela kamar masih menitikkan air. Tanaman pengusir nyamuk itu menyukai suasana basah. ‘Mas Pram sudah pulang,’ batin Kinanti. Ia memilih masuk melalui pintu samping, langsung menuju dapur. Aroma tempe goreng menggoda perut.

“Assalamualaikum, Mas.” Perempuan muda itu melepas sepatu.

“Waalaikumsalam. Tadi ada yang mencarimu, Dek,” sahut Pram tanpa menoleh. Tangannya sibuk memasukkan keping tempe dalam penggorengan. Kinanti menghampiri, melingkarkan tangan ke pinggang suami. Membubuhkan kecupan di punggung kekar itu. 

Pram melirik Kinanti dari ujung bahu, kemudian berkata, “mandi dulu, Dek. Buruan sudah mau magrib.” Kinanti merenggangkan pelukan, berlalu menuju kamar mandi.
Sejak pindah ke Jakarta, baru hari ini Kinanti merasakan kembali sesuatu yang telah lama disenangi. Menyibukkan diri dalam agenda dakwah membuat hidup lebih berwarna. Dipercaya menjadi motivator remaja mengharuskan Kinanti menggali semua potensi yang dimiliki. Perempuan yang sempat bergabung dengan komunitas teater itu, bersemangat membagi perjalanan hijrahnya pada remaja muslimah.

“Gimana acara tadi? Sukses?” tanya Pram saat mereka menikmati makan malam setelah sholat magrib.

"Alhamdulillah peserta antusias,” Kinanti mencomot sekeping tempe. “Insya Allah Ramdhan nanti diundang lagi ngisi sanlat.”

"Ohya? Barakallah istriku,” senyum Pram mengembang. Ditatapnya wajah manis sang istri, semburat merah menjalar di pipi.

“Berkat lobi teman-teman dan ....”

“Performa tadi siang, iya ‘kan?” potong Pram.

Kinanti tersenyum simpul, kemudian lirih berucap, “em ... sebenarnya. Tadi aku gugup, Mas.”

“Pengalaman pertama di Jakarta, wajar. Besok-besok pasti lebih baik,”

“I-iya, sih. Tadi ada yang pingsan ....” dada Kinanti kembali bergemuruh.

‘Braak!’ keduanya tersentak! Menoleh ke samping, gorden jendela tertiup angin.. Pram beranjak dari kursi, melangkah ke jendela. Ia melongok ke bawah, seekor kucing berlari meninggalkan pot bunga zodia. Rekahan tanah berserakan di lantai. Lelaki berjenggot tipis itu meraih daun jendela, menutupnya. Ia berbalik dan terlonjak!

“Oh! Dek, ngangetin aja!” protes Pram. Kinanti berdiri tepat di depannya.

“Ingin lihat, tadi apaan, Mas?”

“Kucing. Yuk ah makan lagi,” tangan kecoklatan ditumbuhi rambut-rambut halus itu meranggul Kinanti.
***

Mendekati bulan Ramdahan agenda Kinanti maupun Pram semakin padat. Pasangan muda itu berkejaran dengan waktu. Kinanti sibuk menyiapkan safari sanlat sekolah yang mengundang. Kepiawaian menyampaikan ide-ide Islam membius remaja mulsimah sekaligus menyadarkan mereka untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Tema-tema keremajaan dilahap habis. Otomatis waktu kebersamaan dengan pasangan berkurang drastis. Keduanya bertemu menjelang tidur dengan membawa kelelahan masing-masing. Kerenggangan yang terorganisir oleh waktu. Juga sesuatu yang tak kasat mata.

“Sholat isya dulu, Dek. Sebentar lagi adzan,” kata Pram suatu malam. Matanya tak lepas dari layar monitor, mengerjakan tugas kantor.

Kinanti beranjak ke ranjang sambil menyahut, “ntar malam aja sekalian sholat tahajjud. Udah ngantuk.”

Pram tersentak. Naluri sebagai kepala rumah tangga terusik. Tumpukan tugas kantor yang harus dikejarnya malam ini berandil memupuk emosi. “Gampang banget sih, menyepelekan sholat!”

Sontak Kinanti terlonjak dari pembaringan. Ia menarik selimut yang menenggelamkan separuh tubuhnya. “Mas ...” Badan Kinanti gemetar. Sepanjang perjalanan pernikahan, baru kali ini Pram membentaknya.

“Akhir-akhir ini kamu sering mengulur waktu sholat, Dek! Padahal di akhirat kelak yang pertama ditanyakan adalah sholat. Bukan perihal dakwahmu! Ke sana ke mari meninggalkan rumah yang berantakan, menyeru orang lain untuk taat pada Allah. Tapi apa? Bagaimana dengan dirimu sendiri?” geram Pram.

Dari balik punggung Pram, Kinanti menggigil. Air mata meluruh pelahan. “A-aku ...” tak kuasa Kinanti melanjutkan kalimat.

Pram memutar tubuh, menghadap penuh ke arah Kinanti. “Aku ingin kau menjadi istri sholiha, kurangi kegiatanmu.”

Kinanti menahan isak. Mengelap pipi yang basah, kemudina bersusah payah menyahut, “a-aku ... ingin meraih amal jariyah, Mas. Me-mereka membutuhkanku. Dan ... aku butuh dukunganmu,” tangis Kinanti pecah.

Pram terenyuh melihat istri, Ia bangkit menghampiri Kinanti, mengelus kepalanya, “bilang sama ustadzahmu, nggak semua harus kamu yang melakukan. Bagilah amanah dengan yang lain. Kau butuh istirahat, Dek.”

“Nggak bisa, Mas. Nggak ada yang bisa,” Kinanti menunduk, menghindari tatapan Pram. Mata tajam itu yang membuat jatuh cinta saat proses taaruf dulu.

Pram meraih wajah Kinanti, mengangkatnya hingga mereka bersitatap. Kemudian berucap dengan lembut, “sampai kapan? Kelebihan yang kaumiliki harus dibagi dengan mereka. Ajari temna-temanmu. Ini kerja jamaah, Dek. Bukan individu.”

Perselisihian kecil semakin sering terjadi. Pram mulai jenggah dengan kondisi rumah yang tak terurus. Pulang kerja mendapati istri sudah kelelahan. Menikmati akhir pekan sebatas mimpi yang jarang teralisasi. Agenda dakwah meruncingkan waktu kebersamaan mereka. Aroma tak sedap ini mulai tercium ustadzah Maryam, musrifah Kinanti. Dengan sedikit paksaan, akhirnya Kinanti mengijinkan kajian rutin diadakan di rumah. Setelah malam sebelumnya sang suami menegur.

Di sinilah Ia berada. Duduk bersimbuh melingkar bersama teman-teman pengajian, di teras rumah. Aroma zodia semerbak mengusir nyamuk. Kinanti takzim menyimak syarah kitab.

“Runtuhnya Daulah Khilafah Ustmaniyah dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya, penghapusan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara ...” Ustadzah Maram tersentak. Perkataannya terpotong.

‘Hihihi ...” kikik perempuan tua mengagetkan kelompok kajian itu. Saling tatap kemudian arah mata mereka tertuju pada seorang wanita muda yang tertunduk dengan kitab terbuka. Kinanti.

Ustadzah setengah baya itu menilik wajah Kinanti. Memastikan bahwa suara yang baru terdengar bukan darinya. Peserta kajian yang berjumlah tiga orang itu menggeser duduk, memperhatikan Kinanti. Sapuan lembut angin menegakkan bulu roma. Kemudian terhenti. Detak jam dinding di runag tamu mengalun keras. Gemetar tangan Ustadzah Maryam menyentuh tangan perempuan berhidung mancung itu.

“Hah hah hah,” dengus Kinanti menjadi. Badan kurus itu menegang.

“Astaghfirullah ... Kinan, istighfar. Astaghfirullah al adziim!” seru Ustadzah histeris. Kinanti terhuyung ke depan, menimpa gelas dan sajian kue. “Bantu geser badannya,” sambung Ustadzah panik. Alunan dzikir mendengung tak beraturan. Masing-masing orang shock tanpa tahu harus bagaimana menanggapi situasi yang tak pernah terpikirkan ini? Seorang dari mereka meninisiatif menelpon Pram. Tak ada sahutan.

Ustadzah Maryam menopang kepala Kinanti, pelan-pelan meletakkannya ke lantai. Mata Kinanti tertutup rapat. Dadanya naik turun. Sementara dari bibirnya masih mengeluarkan dengusan mirip suara perempuan tua. Ustadzah Maryam menangkupkan tangan ke dada Kinanti. Lirih meluncur surat Al Fatihah diikuti peserta kajian lainnya dengan wajah menegang. Setitik air merembes dari sudut mata Kinanti. Tangannya merenggang, mencengkeram karpet.

Di antara deru napas tersenggal, Ia berucap, “pergi!” kepala Kinanti mendongak. Ustadzah Maryam semakin mengeratkan pelukan, menahan tubuh Kinanti yang meronta-ronta.

“Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum, laa ta’ khudzuhuu sinatuu walaa naum, lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardh,” seru Ustadzah Maryam meningkahi amukan Kinanti.

Perempuan itu menghentakkan badan, merosot dari pelukan Ustadzah. 

‘Prang!’ gelas dan piring berhambur terkena amukan Kinanti.

“Astaghfirullah!”

Badan Kinanti melata di lantai, menatap Ustadzah Maryam dengan tajam, “sok tahu! Tak hanya bahasa Arab, tapi juga para perempuan yang mulai jalang di jalanan. Hahaha! Perempuan-perempuan itu berhasil dirusak teman-temanku!”

Ustadzah bergeming, membalas tatapan itu dengan lantunan Quran, “Alif laam miim. Dzaalikal kitabu laa roiba fiihi. Hudal lil muttaqiin. Alladzina yu’minuna bil ghoibi wa yuqiimuunash sholaata wa mimmaa rozaqnahum yunfiikuun.”

“Aaaah!” terika Kinanti histeris. Tangisnya pecah. Ia meraung-raung di pojok teras. Ia mengacak kerudung merah yang dikenakan. Kedua kaki menendang tak tentu arah. Rekan-rekan Kinanti tak tinggal diam, mereka sahut menyahut membaca ayat-ayat ruqyah. Merasa terancam, Kinanti berklai-kali menerjang salah seorang dari mereka. Dengan tanggap, orang lainnya menangkap tangan Kinanti. Mereka berempat memegangi tubuh Kinanti sembari terus melantunkan ayat-ayat suci Al Quran.
***

Pram mengamati tubuh kelelahan istrinya. Air muka lelaki muda itu pucat. Untuk kesekian kali Ia menelan pil pahit kenyataan. Sejak peristiwa kesurupan ketika kajian rutin di rumah beberapa wkatu yang lalu, Kinanti semakin sering menunjukkan gelagat abnormal. Pernah suatu siang mengisi seminar, sepuluh peserta acara yang masih duduk di bangku SMU itu pingsan. Belum lagi Satpam yang sering membangunkan Pram, menginfokan sang istri berjalan tengah malam di taman komplek.

“Terapi ruqyah ini tidak akan berhasil kecuali dengan kesadaran sendiri untuk memutuskannya, Pak Pram,” terang Ustadz Burhan tadi malam masih segar dalam ingatan. Demi kesembuhan istri, Ia rela mengambil cuti. Menemani terapi di kampung halaman. Belum hilang lelah begadang dan pegal-pegal badan akibat tidur di lantai masjid. Sepagi ini Kinanti kembali membuat terluka.

Sedikit membenarkan kemeja, Pram bersuara, “semalam hujan lebat. Ustadz Burhan menemaniku hingga larut di masjid. Kami membicarakan banyak hal terkait kesembuhanmu, Dek. Hingga sama-sama tertidur di sana. Jadi, bagaimana mungkin aku harus mandi junub pagi ini?”

Kinanti membelalakkan mata! Sekilas Ia memandang pintu kamar yang sedikit terbuka. Dari dapur tempat mereka berbincang atau lebih tepatnya bersitegang, Ia melirik pada gulungan selimut tebal di atas ranjang. Siluet lelaki terbentuk jelas di sana. Kinanti kembali menatap Pram. Bibirnya menciut, menahan kesedihan sekaligus ketakutan. Sang suami nyata-nyata baru mencopot sandal dan menyimpannya di rak sebelah pintu dapur. Raut kaget dan –jijik— membayang saat dirinya menawarkan air hangat untuk mandi wajib. Jadi siapa yang semalam bersamanya? 

Terbata-bata Ia menyahut, “maafkan aku, Mas,” isak tangisnya mulai terdengar.

Pram berkacak pinggang, menekuk muka. Bergetar Ia berkata, “keberhasilan ruqyah ini sepenuhnya ada pada kendalimu, Dek. Kau yang punya kuasa penuh untuk memtuskan pertalian itu atau ... justru menikmatinya ....”

Kinanti tersentak! Lututnya bergetar hebat. Reflek tangan kurus itu menggapai daun pintu, menahan beban tubuh.

“M-Mass ... a-aku ...” tak kuasa Ia melanjutkan kalimat. Lidah mendadak kelu. Tuduhan keji itu menikam ulu hati.

“Maafkan aku, Dek. Aku lelaki lemah yang memiliki batas kesabaran. Cintaku sangat besar padamu. Aku prihatin melihat keganjilan yang menimpamu, kau pahamkan ‘kan? Kerjaan sampai kutinggalkan demi kamu. Tapi ... kenapa kau rela berbagi tubuhmu? Kau tega, Dek! Kurang apa aku cintaku? Hah!” otot wajah Pram menegang. Lelaki itu kasar menghapus air mata yang membasahi pipi.

“Astaghfirullah ... a-aku ... aku tak mengerti, Mas. Demi Allah aku tidak menginginkannya,” tangis Kinanti tak terbendung.

Pram menatam tajam, “Aku butuh waktu sendiri,” sejenak kemudian Ia berlalu dari dapur, menuju kamar. Kinanti mengekornya dengan perasaan kalut.

“Maksud, Mas?” ketakutan mulai membayangi wajah Kinanti.
Pram memasukkan beberapa helai baju ke dalam kopor hitam.

“Aku kembali ke Jakarta hari ini,’ ketus Pram.
Rinai, Ibu Kinanti yang mendengar keributan, berdiri menyaksikan pasangan muda itu dari pintu kamar. Matanya berkaca-kaca. Degup jantungnya berpacu kencang.

“Ka-kapan menjemputku, Mas?” ucap Kinanti bergetar.

“Nanti kukabari, semoga tiga bulan cukup untuk saling berbenah diri.”

Rinai terlonjak! Bergegas Ia mendekati pasangan muda itu, “Astaghfirullah, Pram.”

Pram menoleh kemudian menghambur dalam pelukan mertuanya, “Maafkan, Pram, Bunda, “ ujar Pram bertubi-tubi.

Rinai memejamkan mata. Bayang gelap pernikahannya hadir kembali. Haruskah anak semata wayangnya mengalami semua ini?

“Jangan pergi sekarang, Mas,” sahut Kinanti disela isak tangis. Rasa bersalah memenuhi segenap penjuru relung dada.

Pram melepaskan pelukan, menatap Kinanti, “aku harus pergi, maaf.”

“Tidak. Jangan pagi ini. Tunggulah malam nanti, kumohon ....”

Pria berjambang tipis itu mengambil kopornya, bersiap pergi. “Untuk alasan keselamatan seperti waktu-waktu lalu? Allah yang melindungiku, Kinan. Assalamu’alaikum,”

Rinai mengiringi langkah Pram. Menantu yang banyak berkorban untuk putrinya itu sudah dianggap anak sendiri. Beragam pikiran mulai berkecamuk di balik krudung yang menutupi uban.

“Jangan pergi, Mas!” teriak Kinanti histeris. Perempuan itu terduduk di depan pintu kamar, menyaksikan lelaki yang paling dicnitai membuka pintu depan. Berharap sang suami berbalik dan urung meninggalkan rumah.

“Maafkan aku, Mas! Jangan pergi! Jangan paksa aku ...” tangis Kinanti meraung-raung menggema dalam lorong-lorong rumah.

Pram sempat bergidik mendengar lolongan Kinanti. Teringat suatu pagi Ia dipaksa Kinanti menemani makan bubur hingga membuatnya terlambat ke kantor. Awalnya merasa kesal, sesaat kemudian rasa hutang budi menguar. Sepuluh menit sebelum kedatangannya di kantor, plafon ruang kerjanya terjatuh menimpa rekannya hingga mengantarkan menuju ajal. Akankah pagi ini terjadi lagi? Laa haulaa wa laa quwwata illa billaah, batin Pram.

Di ujung gerbang, Rinai melepas Pram. Seolah dejavu, senyum lelaki itu terkembang menatapnya. Mengenakan syal rajut buatannya, Ia melambaikan tangan untuk terakhir kali sebelum taksi membawanya pergi hingga kini tak jua kembali. Rinai tersentak! Pram mengulurkan tangan.

“Pram mohon pamit, Bunda. Assalamu’alaikum,” Pram mencium takjim tangan keriput Rinai. Perempuan paruh bayu itu mengelus rambut Pram. Rasa kehilangan muncul bahkan sebelum mereka berpisah.

Rinai menatap mobil Pram bergabung dengan lalu lalang kendaraan di jalanan Pare KM 0.

Kesedihan yang menyergap hati Rinai berubah tegang! Jeritan Kinanti membuatnya tergopoh masuk masuk rumah. Dilihatnya Kinanti duduk menyandari daun pintu kamar. Rambut terurai menutupi sebagian wajah. Tubuh itu menegang!

Rinai menghentikan langkah. Mengamati kondisi sang putri. Sejurus kemudian terdengar lirih senandung gending Jawa.

“Yen ing tawang ana lintang, cah ayu. Aku ngenteni tekamu. Marang mega ing angkasa, ingsung takokke pawartamu...” senandaung itu pelahan mengalir dari ... bibir Kinanti!

Rinai membalik badan. Ia berlari menuju runag tamu. Sekilas Ia menoleh ke arah Kinanti, sial! Punggungnya menghantam meja kayu jati. Meringis menahan sakit dan ketakutan memuncak, Ia menyambar telepon di pojok meja. Gemetar tangannya memencet nomor Ustadz Burhan.

‘Tuut! Tutt!’ Ya Allah, mudahkanlah, angkat, batin Rinai. Perempuan tua itu memiringkan kepala ke arah Kinanti. Dari balik vas bunga, sang putri terlihat bangkit.

“Janji-janji aku eling, cah manis,” senandung itu menjauh bersama hilangnya Kinanti dari pandangan Rinai.

Perempuan muda yang baru menerima talak itu melangkah ke kamar. Masih dengan menunduk, Ia menuju ujung kamar di sebelah kamar mandi. Mendorong sekuat tenaga dinding yang dibuat masa penjajahan Belanda itu. Keringat mulai menetes.

‘Krek!’ dinding terbuka! Tepat di depannya lukisan kanvas Waranggeni tersenyum, nenek buyut Kinanti. Rambut disanggul rapi dengan tusuk konde mencolok perhatian. Kinanti meraba lukisan, kemudian menghentakkannya! Ruangan sempit ini berlantai papan kayu jati. Kinanti duduk meraba-raba lantai. Di luar kesadaran, Ia membuka ubin antik itu. Sebuah tangga menjulur ke bawah. Perempuan itu mulai menuruni anak tangga. Ruang bawah tanah yang puluhan tahun tak terjamah. Terdapat meja dengan kursi ukiran yang juga terbuat dari kayu jati. Sekeliling dipenuhi rak berisi naskah-naskah kuno. Laba-laba merajai tiap sudut ruangan. Aroma busuk menyesakkan dada. Perempuan muda berhidung beo itu terpaku menatap sebuah kotak di atas meja. Ia meraih kotak kuno itu. Tubuhnya bergetar hebat! Dengusnya semakin keras. Di samping kotak itu, tergeletak tengkorak manusia! Setelan baju pria jaman dulu menyampir di meja dan berakhir pada kursi di depannya. Di bawah kursi, tulang belulang berserakan.

Kinanti menggapai kotak itu, kemudian membukanya. Bibirnya tak henti mendesis. Mata bermanik coklat itu terbelalak menatap isi kotak. Tusuk konde kayu jati berukir burung merak! Persis seperti yang dikenakan Waranggeni. Kinanti dengan kasar menggelung rambut panjangnya. Ia hendak mematrinya dengan tusuk itu!

“Hentikan!” Kinanti menoleh. Ustadz Burhan berdiri di ujung tangga. Pelahan menghampiri.

“Pergi! Kau sudah menyusahkanku!” seru Kinanti sengit. Bukan, bukan suara Kinanti. Suara nenek-nenek renta beserta lenguhnya.

“Kau yang harus pergi dari tubuh Kinanti! Bertaubatlah!”

Kinanti memutar kepalanya, kemudian menyahut kasar,”Aku tak suka anak ini menjadi baik. Semua gara-gara kalian! Sejak ikut kajian kalian, dia menjadi lembut dan menolak hadirku!”

“Bertaubatlah pada Allah,”

“Aku benci kalian! Apa yang kalian bicarakan? Menegakkan syariat Allah? Ia hampir mengikutiku, meninggalkan rumah dan mengejar ketenaran di luar! Ia akan menjadi temanku yang menentang seruan kalian! Haha!”

Ustadz Burhan terus melantunkan kalimat dzikir. “Keluarlah! Apa yang kau cari dari perbuatanmu?”

“Aku ingin punya pengikut! Wanita-wanita yang malas membereskan rumah, menentang suami dan mereka cerai! Hahaha! Jika kalian menyerukan hukum Allah, aku tidak punya teman!”

“Bismillahiladzi la yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi walaa fissama’i wahuwassami’ul ‘aliim. Kullu nafsin dzaaiqotul maut. Tsumma ilainaa turjauun.”

‘Aaaah!” Kinanti menggeliat. Kedua tangannya kaku hendak menggapai Ustadz Burhan.

“Wa idzaa qiila lahuut taqillaha akhodzathul ‘izzatu bil itsmi fahasbuhuu jahannam, wa labi’sal mihaad!” seru Ustadz Burhan lantang.

Kinanti semakin agresif, menghentakkan kaki ke sana ke mari. Ia memegangi kepala dengan mendesis. Mendadak perempuan itu bangkit! Menyatukan telapak tanggan di atas kepala. Meliukkan badan dan menghentakkan kaki berirama! Ia mulai menari. Rinai yang mengamati dari ujung tangga tersentak. Bayang tarian eyang Waranggeni melintas.

“Aku datang! Waranggeni, bukankah kau ingin anak turunanmu kaya raya? Aku tidak menghianati janji atas darah suamimu! Hah! Hah!” Kinanti beringas. Sebentar menghentakkan kaki, sekejap kemudian menjatuhkan diri di lantai. Sedang Rinai tak mampu membendung air mata. Teringat sang Eyang begitu benci saat Ia memilih ikut suami ketimbang mengikuti petunjuknya. Pilihan yang membuatnya justru kehilangan suami seumur hidup.

Ustadz Burhan mendekati Kinanti. Berbalut sarung tangan, Ia memegangi ubun-ubun Kinanti. “Khudzuuhu faghulluuh. Tsummal jahiima sholluuh. Tsumma fii silsilatin dzar’uunadziroo ‘an faslukuuhu. Innahuu kaana laa yu’minu billahil ‘adziim.”

Teriakan Kinanti semakin kencang. Badannya menegang! Tak lama kemudian Ia lemas. Matanya terkatup rapat. Air mata merembes. Ustadz Burhan terus melanjutkan lantunan ayat Quran. Rinai mendekati sang putri.

Ustadz Burhan kemudian melafadzkan surat An-Nasr hingga selesai. Kemudian, “Wa alqi maa fii yamiinika talqof maa shona’uu, innamaa shona’uu kaidu saahirin, wa laa yuflihus saahiru haitsu ataa. Faulqiyas saharotu sujjadan qooluu aamannaa birobbi haaruuna wa muusaa.”

Mata Kinanti pelahan terbuka. Ia menatap wajah sang Bunda yang tergugu di ujung kakinya.

“Alhamdulillah, anakku,” isak Rinai. Kinanti beralih menatap Ustadz Burhan. Serta merta kesedihan menjalar. Tangisnya kembali pecah. Kini bibir ranumnya mengalirkan kalimat dzikir dan istighfar berkali-kali.

“Kita perlu memusnahkan benda berisi sihir itu,” tunjuk Ustadz Burhan pada tusuk konde yang berserak tak jauh dari Kinanti.

Mereka bertiga kembali ke lantai atas. Istri ustadz Burhan menyambut Kinanti, memberikam selembar kerusung dan segelas air ruqyah. Ustadz Burhan menuju taman di samping rumah. Beliau menyiapkan sejumlah kayu guna membakar tusuk konde. Dari balik jendela, Kinanti menatap sendu tusuk itu. Perasaan sedih mennyergap. Ia sadar, pengaruh jin itu masih belum sepenuhnya hilang. Seperti pesan sang suami, hanya dirinya sendirilah yang mampu memutuskan rantai jin keturunan ini.

Belum usai kobaran api melalap tusuk konde, Rinai tergopoh menyerahkan telepon pada Kinanti.

“Mas,” sapa Kinanti lirih.

“Aku di rumah sakit. Maafkan atas semua kesalahan yang kubuat selama menjadi suami. Semoga kau mendapat suami yang lebih baik. Aku tidak akan menjemputmu,” suara Pram di ujjung telepon dengan lemah. Balutan perban di kepala membuatnya susah payah mengeluarkan suara.

Telepon genggam terlepas! Bibir Kinanti membulat. Gumpalan air mata siap meluncur dari sudut mata janda muda itu.

***
Siang yang panas menggelayuti langit Pare. Rumah bercat biru muda dengan halaman beraneka bunga tampak sepi. Aroma bunga zodia menohok hidung siapa saja yang mendekat.

“Permisi, paket!” teriak seorang lelaki dari balik pagar. Sosok perempuan gemuk tergopoh membuka pintu.

"Cari siapa, Pak?”

“Paket dari ... oh tidak ada nama pengirim. Tanda tangan di sini ya, Bu,” lelaki berbadan kurus itu menyodorkan pulpen dan selembar kertas.

Perempuan berambut sepinggang itu kembali ke rumah sambil mengkerutkan dahi. Menimbang siapakah yang mengirimi paket? Penasaran, Ia membuka bungkusan paket itu. Matanya terbelalak!

“Wow! Bros burung Merak yang indah.”

End
Oleh : Ita Djamari

Memasuki bulan Rajab selalu ada desir-desir menyesakkan. Puluhan Rajab telah dilalui setelah peristiwa pahit yang meruntuhkan benteng umat Islam. Perisai di mana umat bertahan dan menyerang. Kemudian tercerai berai.
Banyak kisah heroik tertoreh selama perjalanan kekhilafahan. Siapa yang tak mengenal Khulafaur Rasyidin? Beliau para pemimpin yang meneruskan pemerintahan Islam setelah Nabi wafat. Silih berganti melayani umat. Menyebarkan Islam ke penjuru dunia.
Siapa yang tak mengenal penakluk Konstatinopel? Beliau pemimpin umat Islam. Memerintah dengan aturan yang diturunkan Allah.
Ketaatan pada Allah membutuhkan pengorbanan besar. Dicontohkan para shahabat Nabi dan orang-orang sesudahnya.
Mari berkenalan dengan Jenderal Ismail Bey yang shalih. Ia merupakan salah satu Jenderal kebanggaan Ali Bey, penguasa Mesir pada masa Khilafah Ustmaniyah.
Ali Bey yang merupakan bangsa Mamluk, mempunyai ambisi menggulingkan kekuasaan Sulthan di wilayah Mesir dan sekitarnya. Ia menjalin kerja sama dengan Rusia dibawah Catherine. Lalu mengumpulkan 20.000 tentara dibawah kepemimpinan Ismail Bey untuk menyerang Suriah.
Sang Jenderal berhasil melintasi Gaza, menyeberangi lembah Yordan bergerak ke timur menggunakan jalur jamaah haji. Ketika memasuki Muzayrib, Ismail Bey berhadapan dengan Gubernur Damaskus.
Usman Pasha, sang Gubernur memimpin rombongan jamaah haji itu. Air mata Ismail Bey meleleh. Berhaji adalah salah satu rukun Islam. Ibadah besar. Menyerang mereka berarti melakukan kejahatan agama. Berhadapan dengan Allah. Jenderal Ismail Bey yang shalih berbalik. Menarik pasukan. Ia memilih taat pada Allah ketimbang melaksanakan amanah dari Gubernurnya.
Mendengar kabar pengunduran pasukan, membuat Gubernur Ali Bey muntap. Ia kemudian mengirim jenderal Muhammad Bey.
Muhammad Bey dulunya adalah budak yang dibebaskan oleh Ali Bey. Sepenuh hati Ali Bey mengasihi dan mendidiknya. Pada hari kebebasannya, Ia membagikan uang logam pada rakyat jelata di sepanjang jalan antara benteng dan pusat kota. Untuk itulah Ia dijuluki Abu Dhahab, sang Ayah Emas.
Jenderal dermawan kesayangan Ali Bey berangkat memimpin 35.000 pasukan ke Suriah, bergabung dengan Ismail Bey.
Gabungan dua pasukan yang besar bak air bah menggulung kekuasaan Gubernur Ustmaniyah di Damaskus. Mesir, Hijaz dan Damaskus kini di bawah kekuasaan Gubernur Ali Bey. Hiruk pikuk kemenangan mewarnai kota.
Di tengah kegembiraan merayakan kemenangan, suatu malam Ismail Bey menyelinap menemui Muhammad Bey. Mereka bertatap muka dalam perbincangan serius. Ismail Bey yang memperoleh pendidikan agama lebih dari rata-rata orang Mamluk, mengutarkan kegundahan hatinya. Riak muka penyesalan tergambar jelas.
"Pemerintah Ustmaniyah tidak akan membiarkan pemberontakan besar-besaran ini," Ismail mengingatkan Muhammad Bey.
Kemudian, "Allah juga akan memintai pertanggung jawaban kita."
Bagai petir menyambar, Muhammad Bey terhentak. Bukankah orang-orang beriman tergetar hati saat disebut asma Allah?
Ismail Bey melanjutkan, "Karena sesungguhnya pemberontakan terhadap Sulthan adalah salah satu rencana iblis."
Kedua Jenderal shalih itu saling mengingatkan dan menguatkan. Jika mereka tetap bertahan bersama Ali Bey, niscaya kelimpahan harta dan pangkat akan diperoleh. Tapi tidak! Mereka lebih memilih berjalan sesuai aturan Allah.
Muhammad Bey yang digadang-gadang melanjutkan tampuk kepemimpinan setelah Ali Bey, kemudian berbalik arah. Ia yang semula kesayangan sang Gubernur, demi meraih ridho Allah, rela meninggalkan semuanya.
Pergolakan batin menyiksa. Mengingat betapa banyak jasa Ali Bey dalam mendidik dan memberinya jabatan. Muhammad Bey memantapkan hati. Ia memutuskan menyerang!
Dalam sebuah perjalanan menuju Kairo, Ali Bey dihadang mantan budak kesayangannya! Mengesampingkan urusan hati, Muhammad Bey mantap menangkap Ali Bey si penghianat Khilafah Ustmaniyah.
Masya Allah. Kisah mengharu biru yang bisa kita petik hikmahnya. Manusia-manusia pilihan yang rela memutuskan tali kasih sayang pada manusia demi ridho Allah.
Masih banyak lagi kisah serupa. Itu terjadi pada masa Khilafah Utsmaniyah. Sistem pemerintahan ajaran Islam. Pernah ada. Dan tidak bisa dihapus begitu saja. Anda boleh tidak menyukainya, tapi tinta sejarah sudah mencatat. Kelak akan ada kekhilafah yang kedua. Insya Allah.
Wallahu alam
*****
Diambil dari buku: Dari Puncak Khilafah karya Eugene Rogan