Oleh : Ita Djamari
Memasuki bulan Rajab selalu ada desir-desir menyesakkan. Puluhan Rajab telah dilalui setelah peristiwa pahit yang meruntuhkan benteng umat Islam. Perisai di mana umat bertahan dan menyerang. Kemudian tercerai berai.
Banyak kisah heroik tertoreh selama perjalanan kekhilafahan. Siapa yang tak mengenal Khulafaur Rasyidin? Beliau para pemimpin yang meneruskan pemerintahan Islam setelah Nabi wafat. Silih berganti melayani umat. Menyebarkan Islam ke penjuru dunia.
Siapa yang tak mengenal penakluk Konstatinopel? Beliau pemimpin umat Islam. Memerintah dengan aturan yang diturunkan Allah.
Ketaatan pada Allah membutuhkan pengorbanan besar. Dicontohkan para shahabat Nabi dan orang-orang sesudahnya.
Mari berkenalan dengan Jenderal Ismail Bey yang shalih. Ia merupakan salah satu Jenderal kebanggaan Ali Bey, penguasa Mesir pada masa Khilafah Ustmaniyah.
Ali Bey yang merupakan bangsa Mamluk, mempunyai ambisi menggulingkan kekuasaan Sulthan di wilayah Mesir dan sekitarnya. Ia menjalin kerja sama dengan Rusia dibawah Catherine. Lalu mengumpulkan 20.000 tentara dibawah kepemimpinan Ismail Bey untuk menyerang Suriah.
Sang Jenderal berhasil melintasi Gaza, menyeberangi lembah Yordan bergerak ke timur menggunakan jalur jamaah haji. Ketika memasuki Muzayrib, Ismail Bey berhadapan dengan Gubernur Damaskus.
Usman Pasha, sang Gubernur memimpin rombongan jamaah haji itu. Air mata Ismail Bey meleleh. Berhaji adalah salah satu rukun Islam. Ibadah besar. Menyerang mereka berarti melakukan kejahatan agama. Berhadapan dengan Allah. Jenderal Ismail Bey yang shalih berbalik. Menarik pasukan. Ia memilih taat pada Allah ketimbang melaksanakan amanah dari Gubernurnya.
Mendengar kabar pengunduran pasukan, membuat Gubernur Ali Bey muntap. Ia kemudian mengirim jenderal Muhammad Bey.
Muhammad Bey dulunya adalah budak yang dibebaskan oleh Ali Bey. Sepenuh hati Ali Bey mengasihi dan mendidiknya. Pada hari kebebasannya, Ia membagikan uang logam pada rakyat jelata di sepanjang jalan antara benteng dan pusat kota. Untuk itulah Ia dijuluki Abu Dhahab, sang Ayah Emas.
Jenderal dermawan kesayangan Ali Bey berangkat memimpin 35.000 pasukan ke Suriah, bergabung dengan Ismail Bey.
Gabungan dua pasukan yang besar bak air bah menggulung kekuasaan Gubernur Ustmaniyah di Damaskus. Mesir, Hijaz dan Damaskus kini di bawah kekuasaan Gubernur Ali Bey. Hiruk pikuk kemenangan mewarnai kota.
Di tengah kegembiraan merayakan kemenangan, suatu malam Ismail Bey menyelinap menemui Muhammad Bey. Mereka bertatap muka dalam perbincangan serius. Ismail Bey yang memperoleh pendidikan agama lebih dari rata-rata orang Mamluk, mengutarkan kegundahan hatinya. Riak muka penyesalan tergambar jelas.
"Pemerintah Ustmaniyah tidak akan membiarkan pemberontakan besar-besaran ini," Ismail mengingatkan Muhammad Bey.
Kemudian, "Allah juga akan memintai pertanggung jawaban kita."
Bagai petir menyambar, Muhammad Bey terhentak. Bukankah orang-orang beriman tergetar hati saat disebut asma Allah?
Ismail Bey melanjutkan, "Karena sesungguhnya pemberontakan terhadap Sulthan adalah salah satu rencana iblis."
Kedua Jenderal shalih itu saling mengingatkan dan menguatkan. Jika mereka tetap bertahan bersama Ali Bey, niscaya kelimpahan harta dan pangkat akan diperoleh. Tapi tidak! Mereka lebih memilih berjalan sesuai aturan Allah.
Muhammad Bey yang digadang-gadang melanjutkan tampuk kepemimpinan setelah Ali Bey, kemudian berbalik arah. Ia yang semula kesayangan sang Gubernur, demi meraih ridho Allah, rela meninggalkan semuanya.
Pergolakan batin menyiksa. Mengingat betapa banyak jasa Ali Bey dalam mendidik dan memberinya jabatan. Muhammad Bey memantapkan hati. Ia memutuskan menyerang!
Dalam sebuah perjalanan menuju Kairo, Ali Bey dihadang mantan budak kesayangannya! Mengesampingkan urusan hati, Muhammad Bey mantap menangkap Ali Bey si penghianat Khilafah Ustmaniyah.
Masya Allah. Kisah mengharu biru yang bisa kita petik hikmahnya. Manusia-manusia pilihan yang rela memutuskan tali kasih sayang pada manusia demi ridho Allah.
Masih banyak lagi kisah serupa. Itu terjadi pada masa Khilafah Utsmaniyah. Sistem pemerintahan ajaran Islam. Pernah ada. Dan tidak bisa dihapus begitu saja. Anda boleh tidak menyukainya, tapi tinta sejarah sudah mencatat. Kelak akan ada kekhilafah yang kedua. Insya Allah.
Wallahu alam

0 komentar:
Posting Komentar